keunggulan SD Islam

Republika. Senin, 01 Juli 2002

Melirik Potensi SD Unggulan

Sekolah Dasar (SD) unggulan, tetap saja unggul. Seperti tahun-tahun
sebelumnya, sekolah jenis ini selalu dibanjiri peminat. Negeri atau swasta
tak masalah. Bahkan biaya bukan persoalan penting. Dengan peminat yang
selalu membengkak dan tak sebanding dengan daya tampung, persaingan pun
sulit dihindari.

Lihatlah, SD Al Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Di sekolah ini, pintu
buat calon siswa sudah ditutup ketika sekolah negeri baru memulai
pendaftaran. ”Kita sudah selesai sejak Mei 2002,” tutur Bronto Asmoro,
Kepala SD Al Izhar, akhir pekan lalu.

SD negeri di Jakarta baru membuka pendaftaran siswa baru, Senin pekan silam
(24/6). Sekalipun demikian, peminat SD negeri unggulan tak kalah dari
sekolah swasta. SDN Percontohan 01 Menteng, Jakarta Pusat misalnya. Dua hari
masa pendaftaran, lebih dari 200 calon siswa mendaftar. Ini jelas melebihi
kapasitas yang hanya 80 siswa. Apa boleh buat, terpaksa dilakukan seleksi
masuk.

Kondisi serupa terjadi di SDN Percontohan IKIP Jakarta. Pendaftaran dibuka
24 Juni 2002. Peminatnya langsung melebihi kapasitas. Dari 133 daya tampung
ada, yang datang mendaftar 360 orang.

Seleksi pun tak terhindarkan. Siswa yang tak sesuai kualifikasi mau tak mau
hengkang. ”Kami ingin mengetahui bagaimana kondisi awal siswa,” kata
Kepala SDNP IKIP Jakarta Sulastri memberi alasan. Selain itu, katanya,
sebagai sekolah percontohan, ia ingin punya output yang baik. Untuk itu, dia
harus memilih input yang masuk.

Seleksi, menurut Kepala SDN 01 Menteng, Sujadiyono, dilakukan dengan
transparan. Ini menyangkut dasar, materi, dan aspek penilaian. Semua
diumumkan. ”Ada selebaran disampaikan kepada orang tua calon siswa yang
mendaftar.”

Di SDNP IKIP Jakarta, selain tes praakademis, dan kreativitas, siswa juga
harus mengikuti psikotes. Rangkaian tes tersebut, menurut Sulastri, tak
terlalu rumit mengingat sebagian siswa datang dari TK Labschool. ”Mereka
sudah dapat kurikulum plus. Jadi kemampuan membaca dan berhitung
permulaannya sudah baik.”

Banyaknya peminat SDNP IKIP Jakarta tak bisa dilepaskan dari keberadaan
Labschool. Lokasinya memang sangat dekat. Bahkan bagian dalam sekolah
tersebut dihubungkan dengan lorong yang bisa dibuka pada waktu istirahat ke
kompleks Labshcool.

Labschool memang tak menyelenggarakan SD. Mereka hanya punya TK, SMP, dan
SMU. Orang tua siswa yang ingin anaknya terus belajar di Labschool sementara
memarkir anaknya di SDNP IKIP Jakarta setelah selesai mengikuti program
taman kanak-kanak. Lulus dari dari SDNP IKIP Jakarta, siswa kembali ditarik
untuk masuk SMP Labschool.

”Kami memang memprioritaskan dari TK Labschool karena tetangga,” kata
Sulastri. Dia juga mengakui lulusan sekolahnya sebagian meneruskan ke
Labschool, meski tidak seratus persen. Menurut Sulastri, hal itu disebabkan
faktor keamanan dan pergaulan. ”Orang tua merasa lebih aman karena anaknya
tetap berada di satu lingkungan.”

Berbeda dengan SD negeri, SD Al Izhar membuka pendaftaran hanya sehari, pada
27 Mei 2002. Tercatat ada 28 calon yang mendaftar. Tapi, itu pun harus
mengikuti seleksi lantaran kursi yang tersedia hanya untuk lima anak.
Selebihnya telah diisi calon siswa yang berasal dari lembaga yang sama: TK
Al Izhar. ”Kalau dari TK Al Izhar, otomatis diterima,” ujar Bronto.

Dia mengatakan, kursi untuk calon siswa SD Al Izhar sama jumlahnya dengan
lepasan TK Al Izhar. Hanya saja, kerap kali ada yang urung mendaftar di SD
karena mengikuti orang tuanya yang pindah ke luar kota atau ke luar negeri.
Kursi yang ditinggal itulah yang lantas diberikan kepada calon siswa yang
bukan dari TK Al Izhar.

Berbeda lepasan TK Al Izhar, calon siswa dari luar masih perlu mengikuti
seleksi. Ini untuk mengetahui profil anak sekaligus sejauh mana kesiapan
mereka untuk masuk di sekolah ini. ”Untuk lepasan TK Al Izhar, kami sudah
mengetahui profilnya karena satu lembaga.” Lagi pula, papar Bronto, siswa
sudah lebih dulu mengikuti seleksi saat masuk TK.

Apa kelebihan sekolah yang difavoriti banyak calon siswa? SD Al Izhar,
menurut Bronto, memegang komitmen untuk menjaga perbandingan guru dengan
siswa. Tiap kelas hanya diisi 29 siswa dengan dua guru. Perbandingan anak
dengan guru menjadi 1:15. Kondisi tersebut sangat kondusif untuk mencermati
perkembangan anak, agar mudah mengarahkan kemampuannya. ”Ini modal yang
kuat untuk melanjutkan pendidikan,” alasannya.

Para guru senantiasa melakukan evaluasi metode pengajaran dan berbagi
pengalaman dengan lainnya. Bahkan, menurut dia, metode pengajaran diarahkan
oleh pembina akademik dan kerap diubah agar tidak monoton. Dengan kemasan
menarik, anak senang dan tak mudah bosan. Lebih dari itu, menurut dia,
keperluan anak juga dipantau.

Di SDN Percontohan 01 Menteng, sehari-hari siswa tidak hanya belajar sesuai
kurikulum, tapi juga ekstra kurikulum. Sedikitnya ada 14 jenis kegiatan
ekstra kurikuler, dari tradisional hingga modern. Misalnya, basket, tenis
meja, bahasa Inggris, bahasa Arab, tari tradisional, gambang kromong, gitar
hingga belajar drum. ”Tiap murid wajib mengikuti minimal dua kegiatan
ekstra,” tutur Sujadiyono pada sebuah kesempatan. Tak hanya itu. Siswa yang
beragama Islam mengikuti shalat berjamaah tiap hari untuk meningkatkan
ketaqwaan.

Sebagai percontohan, sekolah yang dibangun di zaman penjajahan Belanda ini
diperkenankan menerima siswa dari lintas wilayah. Tak heran bila hanya
sekitar 40 persen siswa berdomisili di kawasan Menteng. Selebihnya menetap
di berbagai wilayah, tak hanya di Jakarta tapi juga dari Bogor, Tangerang
atau Bekasi.

Yang terjadi di SDNP IKIP Jakarta pun sama. Mereka menawarkan berbagai
program menarik untuk siswa. Lokasi sekolah ini kebetulan sangat dekat
dengan kompleks pendidikan Labschool. Bahkan ada lorong yang menyambungkan
gedung sekolah tiga lantai ini dengan Labschool yang dibuka pada saat
tertentu.

Meski sangat dekat, bukan berarti SDNP IKIP Jakarta identik dengan
Labschool. Penyelenggaraan program pendidikannya terpisah sama sekali.
”Kami ini anak pemerintah, sedangkan Labschool itu swasta” kata Sulastri.

Pengajar kelas tiga hingga enam di SDNP IKIP Jakarta berdasar bidang studi.
Shalat berjamaah dan pendidikan baca dan tulis Alquran lewat TPA juga
merupakan kewajiban bagi siswa kelas satu hingga tiga. Sementara untuk
program ekstrakurikulur, siswa diperkenankan mengikuti berbagai kegiatan
seni dan olah raga. Sekolah ini memiliki lapangan basket, volley,
perlengkapan marching band dan laboratorium penunjang.

SDN 01 Menteng dan SDNP IKIP Jakarta adalah sekolah negeri yang
menyelenggarakan program akselerasi. Ini juga yang membuat mereka menjadi
salah satu daya tarik bagi siswa.

Berapa biaya yang diperlukan untuk masuk sekolah favorit? Di SD Al Izhar,
siswa baru dikenakan uang pangkal Rp 10 juta. Sumbangan Pembinaan Pendidikan
(SPP) tahun lalu sebesar Rp 325.000 per bulan, tahun ini ada kenaikan
menjadi Rp 340.000 per bulan. Di SDN 01 Menteng, sebagaimana lazimnya
sekolah negeri, biaya yang dikenakan kepada siswa baru bisa bervariasi
berdasarkan kesepakatan pengurus Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan
(BP3). Begitupun di SDNP IKIP Jakarta.

Namun biaya yang harus dikeluarkan orang tua siswa juga jauh lebih besar
dibanding sekolah negeri biasa. Soal ini, Sulastri mengatakan berterima
kasih kepada orang tua siswa karena sangat mengerti kebutuhan dana
penyelenggaraan pendidikan yang tak kecil. Sebagai contoh sumbangan BP3
untuk tahun sebelumnya Rp 5 juta dengan sumbangan bulanan Rp 75 ribu per
anak. Biaya itu untuk membayar gaji guru honorer, fasilitas penunjang dan
penyelenggaraan program ekstrakurikuler. bur/tid


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s