SD Sport

PEMBELAJARAN ATLETIK KELAS I DAN II

Isi penting yang tersirat dalam modul I adalah bahwa atletik untuk anak-anak sekolah dasar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Pengertian ini menjadi dasar pengertian perlunya ditinjau kembali metodik pengajaran yang sekarang berlangsung di Sekolah Dasar.

Atletik di SD saat ini makin menjadi pelajaran yang kurang disenangi, ironis sekali, padahal atletik adalah dasar dari semua cabang olahraga. Lalu apa yang menjadi sebab di Sekolah Dasar perhatian terhadap atletik semakin kurang. Hampir pasti disebabakan oleh model pembelajaran yang tidak menyesuaikan dengan karakteristik kemampuan dan perkembangan anak.

Model inilah yang sampai sekarang ini berlangsung karena kurang disenangi, lalu hampir tidak pernah diajarkan. Apakah langkah kita sekarang, untuk menyesuaikan dengan karakteristik dan perkembangan anak-anak Sekolah Dasar, maka atletik harus dimodifikasi. Penekanannya pada aspek bermain, karena ini merupakan bagian dari kehidupan anak. Terutama bagi anak yang kurang berbakat, atletik disajikan dalam bentuk permainan menjadi kegiatan yang menarik. Tujuan modifikasi atletik ini ialah agar sejak awal unsur-unsur gerak dasar atletik dapat diperkenalkan kepada anak secara menarik dan menyenangkan.

 

A. Dasar- dasar gerak lari dan jalan

1. Lari adalah nomor atletik yang menjadi dasar dari hampir semua cabang olahraga, paling tidak dalam pemanasan (warming up), lari menjadi bagian penting sehingga harus diajarkan kepada semua anak.

Guru dalam mengajar pendidikan jasmani harus selalu memikirkan tentang bagaimana bagian dari materi pelajaran lari dapat dibuat semenarik dan menyenangkan mungkin. Bentuk lintasan, susunan kelompok, peralatan yang digunakan dan gerakan larinya harus bervariasi. Berbagai gerakan lari yang dapat dilakukan misalnya: lari maju, mundur, dan ke samping, pada lintasan lurus dan lintasan berkelok-kelok, cepat dan lambat, menanjak atau menurun, menaiki atau menuruni tangga, dengan irama, sendirian, berpasangan, di bukit, di jalan, dalam bentuk estafet dan lain-lain.

Untuk materi  pelajaran pendidikan jasmani di SD kelas I-II tentu saja tidak semua variasi  seperti contoh di atas ditampilkan. Materi harus dipilih dan disesuaiakan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan anak ( +  6-8 tahun ). Pada masa ini koordinasi gerak belum sempurna, sangat aktif, konsentrasi kurang, serta ingin tahu, imajinatif, senang membentuk kelompok kecil, laki-laki perempuan mempunyai minat sama, mudah gembira karena pujian dan mudah sedih karena dikritik. Dengan memperhatikan ciri-ciri di atas, maka materi pelajaran harus disesuaikan.

2. Contoh berbagai variasi lari dan jalan untuk kelas I dan II SD

@  Berbagai bentuk gerakan lari / jalan

  • Lari / jalan ke depan
  • Lari / jalan ke belakang
  • Lari angkat paha
  • Lari / jalan silang ke samping
  • Lari langkah kuda
  • Lari / jalan membawa benda
  • Lari / jalan lintasan berkelok-kelok
  • Lari / jalan naik / turun tangga

 

 

@ Anak bertemu satu dengan yang lain dengan gerakan jalan / lari :

  • Bersalaman
  • Menepukkan satu tangan dengan tangan lawan
  • Menepukkan kedua tang dengan tangan lawan
  • Bergandengan pada siku membuat satu putaran
  • Bergandengan tangan setinggi bahu, membuat putaran
  • Bergandengan dua tangan membuat satu putaran

Gerakan-gerakan tersebut di atas bisa dilakukan dengan jalan dan lari.

 

 

     3. Contoh lari dalam bentuk permainan

@ Lari / jalan bebas mengikuti garis yang dibuat di lantai memungkingkan mereka bertemu satu dengan yang lain. Bila mereka bertemu harus melakukan tugas yang diperintahkan oleh guru. Misalnya bertepuk satu / dua tangan, bergandengan membuat lingkaran dan sebagainya.

 

 

 

@ Mereka berlari berpasangan, nomor ganjil belok ke kanan dan pasangan nomor genap berbelok ke kiri. Bisa dibuat berbagai variasi lain misalnya waku berbelok pasangan berpisah ke kanan dan ke kiri. Pada setiap belokan bentuk gerakan lainnya bisa berganti. Misalnya angkat paha, lari menyamping, dan lain-lain

 

 

 

@ Pelari terdepan membuat gerakan tertentu, yang dibelakangnya menirukan.

 

 

 

@ Bangku yang diatur berderet (slalom) dapat memberi berbagai kemungkinan. Para pelari ditugasi start bersama dengan arah berlawanan. Pada waktu dua pelari bertemu diberkian tugas gerak tertentu, misalnya bersalaman dan lain-lain. Bangku biasa diganti dengan alat lain misalkan dus / kotak yang diatur berderet, pancang, tali atau kalau tidak cukup pakai garis saja.

 

 

 

Ban sepeda bekas juga menjadi alat yang menrik untuk lari di lantai. Ban-ban tersebut dapat dipakai sasaran lari, anak hanya boleh selangkah melewati ban.

 

 

 

B. Dasar-dasar Gerak Lompat

1. Anda pernah mengajar lompat di kelas I-II ? Apakah anda memerlukan bak pasir atau tumpukan busa untuk mendarat ? Tentu tidak ! Lompat utnuk anak satu dua bukan lompat seperti orang dewasa. Pelajaran lompat di kelas I-II masih berbentuk aneka ragam tugas-tugas gerak yang dilakukan dengan melompat-lompat. Tujuannnya adalah memperkaya perbendaharaan gerak anak, belum mengembangkan taknik dasar. Melalui serangkaian proses, perbendaharaan gerak anak akan semakin kaya dan lambat laun akan menuju teknik gerak yang diinginkan. Berbagai variasi gerakan melompat seperti, lompat kedepan, lompat kebelakang, lompat kesamping, lompat rintangan, dan lain-lain, dikemas dalam bentuk permainan yang menggembirakan.

Kegiatannnya dimanipulasi dengan gerakan sederhan, tidak terlalu terstruktur dan disesuikan dengan tingkat kemampuan serta karakteristik anak.

Anada pasti tahu bahwa pada anak kelas I-II (+ 6-8 tahun) koordinasi gerakannya masih belum sempurna. Oleh karena itu jangan diberikan tugas gerak yang berat. Mengapa ? Tugas gerak yang berat memungkinkan terjadinya kelainan postur tubuh. Untuk anak kelas I-II perlu gerakan-gerakan yang ringan, lincah, dan dinamis. Gerakan demikian sangat menyenangkan, efektif untuk mengembangkan koordinasi dan merangsang pertumbuhan fisik anak.

Agar anak mau dan senang melompat-lompat harus ada motivasi. Apakah anda kesulitan memotivasi anak ? Sebenarnya tidak sulit. Seringkali sekedar tanda-tanda di tanah dan garis-garis di lantai sudah cukup memberikan rangsangan. Sebagai contoh, anak-anak yang sedang main loncat-loncatan di halaman sekolah ! Karena asiknya mereka lupa akan keadaan sekitar

2. Contoh Berbagai Variasi Gerakan Melompat Untuk Kelas I dan II SD

@ Berbagai bentuk gerakan melompat

  • Melompat ke depan dengan kaki tumpu bergantian
  • Melompat ke depan dengan kaki tumpu tetap (“engklek”)
  • Melompat ke depan dengan tumpuan dua kaki
  • Melompat ke samping dengan tumpuan dua kaki
  • Melompat ke samping dengan tumpuan satu kaki
  • Melompat ke belakang dengan tumpuan dua kaki

 

 

 

@ Bentuk gerakan melompat berkawan

  • Berjingkat / melompat-lompat mengelilingi teman sambil bergandengan

tangan

 

 

  • Dua orang berjingkat / melompat lompat mengelilingi teman sambil bergandengan tangan

 

 

  • Dua orang sambil bergandengan berjingkat / melompat-lompat secara bergantian menggeser ke samping

 

 

 

  • Sekelompok anak berbaris dengan saling bergandengan pada pundak. Membuat berbagai variasi gerakan lompat dengan iringan tepukan atau musik dengan irama tertentu (100-120 tepukan / menit)

 

 

 

3. Contoh Gerakan Melompat Dalam Bentuk Bermain

@ Menggunakan alat bantu tali

Fungsi tali adalah sebagai rintangan yang harus dilompati. Bagi anak kelas I-II sebaiknya digunakan tali elastis, misalnya karet gelang yang disambung-sambung. Dengan seutas tali yang cukup panjangnya dapat disusun berbagai bentuk permainan misalnya 6 anak duduk membuat lingkaran sambil memegang tali yang menghubungkan masing-masing anak yang lain lari mengikuti irama tepukan tangan (dari guru). Bila ada tanda peluit semua berhenti, lalu melompati tali masuk keluar beberapa kali sampai ada tanda peluit lagi. Kemudian melanjutkan lari keliling.

 

Contoh lain, pengaturan taki berbentuk bintang atau sebagai jari-jari lingkaran. Dua atau tiga anak duduk di pusat lingkaran, tangan kanan dan kiri masing-masing memegang seuras tali dan pada ujung luarnya masing-masing dipegang oleh seorang anak lain. Kelompok lain berlari keliling di dalam lingkaran sambil melompat taki. Tergantung perintah guru, berbagai variasi lompatan dapat dilakukan.

 

 

Simpai atau ban sepeda bekas yang diletakkan berserakan di halaman juga merangsang anak untuk melompat dari simpai satu ke simpai yang lain.

 

 

 

C. Dasar-dasar Gerakan Melempar

1. Pembahasan Singkat

Lempar adalah nomor atletik yang sering “terlupakan”. Guru pendidikan jasmani SD jarang terlihat mengajarkan, mungkin pengaruh aktivitas sehari-hari di jaman modern ini yang kurang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk melakukan gerakan melempar. Tetapi apapun penyebabnyan perkembangan gerak anak kurang lengkap jika nomor lempar tidak diberikan.

2. Contoh Berbagai Variasi Gerakan Melempar untuk kelas I dan II SD

  • Lemparan ayunan di atas bahu satu tangan
  • Lemparan ke depan di atas kepala dengan dua tangan
  • Lemparan ke belakang di atas kepala dengan dua tangan
  • Lemparan ayunan di bawah bahu satu tangan
  • Ke depan dua tangan dari bawah ke atas
  • Ke belakang dua tangan diantara kaki kangkang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Melempar ke sasaran

 

 

 

  • Melempar jauh

 

 

 

2. Contoh gerakan melempar dalam permainan

* Menjatuhkan sasaran

 

 

 

* Mengumpulkan nilai dengan menghitung jumlah bola yang masuk dos/keranjang

 

 

 

  • Berikut ini adalah contoh aktivitas gabungan antara lari dan lompat yaitu melompati beberapa simpai dengan dua kaki. Pada belokan, lari ke samping menghadap ke luar. Selanjutnya lari biasa menuju ke baris semula

 

 

 

 

TUGAS DAN LATIHAN

Setelah mempelajari modul ini, anda dimohon untuk mencoba mengerjakan tugas di bawah ini dan mendiskusikan dengan teman yang dekat dengan sekolah anda. Laporkanlah pekerjaan dan hasil diskusi anda dalam kegiatan kelompok kerja guru dimana anda bertugas.

1. Modul ini ditulis dengan tujuan dapat dipelajari dan diterapkan oleh guru penjas SD yang mengajar pendidikan jasmani secara mandiri.

Uji cobakanlah materi dan contoh pembelajaran dalam modul ini, antara lain:

  1. Apakah anda bisa dan mudah memahami
  2. Kendala apa yang ditemui dalam proses pembelajaran.

2. Tujuan utama modol atletik 1 ini adalah untuk mengenal dasar-dasar gerak lari dan jalan, lompat dan lempar kepada anak. Contoh-contoh dalam modul ini hanya sebagian saja dari dasar-dasar gerak tersebut. Selanjutnya coba kembangkan dalam bentuk permainan yang sesuai dengan karakteristikanak kelas I-II.

3. Buatlah deskripsi tentang kondisi sekolah anda berkaitan dengan kemungkinan dengan dapatnya dilaksanakan kegiatan pendidikan jasmani di sekolah Anda dengan model pembelajaran yang baru disampaikan ini

a. Bagaimana kondisi lapangannya.

b. Alat bantu yang ada dan yang mungkin bisa diciptakan atas kreativitas anda untuk memanfaatkan alat yang ada.

 

 

 

MODUL  2

PEMBELAJARAN ATLETIK KELAS III DAN IV

Modul ini lanjutan dari Modul Atletik 1. Sebagian besar materi dalam modul atletik 1 masih harus dikembangkan dan dilaksanakan di kelas III, IV SD. Kemudian ditambah dengan beberapa variasi gerakan yang mempunyai tingkat kesulitan lebih besar dibanding dengan materi kalas I / II. Jika pada kelas I / II alat – alat yang dipakai sebagian besar terletak hampir rata dengan tanah ( Simpai, Ban, Tali, Garis ) sebaiknya untuk kelas III-IV sudah digunakan alat yang lebih tinggi, misalnya lari dan melompati dst.

Anak kelas III-IV memiliki postur tubuh cenderung belum bagus, otot mulai tumbuh dengan cepat. Oleh karena itu perlu latihan pembentukan tubuh, sifat anak mulai timbul minat untuk berprestasi individual, kompetitif, dan punya idola. Atas dasar karakteristik ini maka disamping permainan beregu juga harus disiapkan permainan individual. Tetapi jangan lupa kemenangan individu bukan atas dasar kekuatan, keterampilan atau teknik tertentu. Bagi yang lemahpun harus diberi kemungkinan untuk menjadi pemenang. Contoh permainan memantulkan bola ketembok dengan menghitung jumlah bola  yang masuk ke keranjang. Yang penting dalam pembelajaran pendidikan jasmani unsur klasikal dan kegembiraan harus diperhatikan. Jangan ada anak yang pasif dan mendominasi kegiatan.

A. Dasar – Dasar Gerak Lari Dan Jalan

1. Pembahasan Singkat

Tugas gerak lari dalam modul 2 ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak yang perhatian utamanya untuk memperkaya perbendaharaan gerak lari. Sebaiknya guru memberi kesempatan kepada anak untuk menunjukan kemampuan larinya, tetapi tidak dilombakan dalam jalur sendiri-sendiri seperti pada lomba lari. Kesempatan ini masih dalam kaitan kelompok dan dalam bentuk permainan, misalnya permainan estafet (bukan lari estafet).

Kualitas tugas gerak lebih meningkat dibanding anak kelas I-II. Ini harus direncanakan dengan cermat, misalnya dengan tugas gerak yang lebih sulit, dengan mempertinggi rintangan-rintang untuk dilompati sambil lari. Atau menggunakan lintasan dengan berbagai macam belokan, yang penting tugas gerak itu merupakan peningkatan atau kelanjutan dari tugas gerka kelas dibawahnya.

2. Contoh Berbagai Variasi Lari dan Jalan Kelas III dan IV SD

  • Lari / jalan tendang pantat dengan tumit
  • Lari / jalan kedepan dengan kaki ayun lurus
  • Lari skiping
  • Lari skiping dengan angkat tumit
  • Lari / jalan sambil memutar lengan
  • Lari / jalan sambil memutar lengan arah berlawanan

 

 

 

 

Beberapa variasi gerak lari jika dilakukan dengan berkawan

  • Menerima benda dari teman untuk diteruskan
  • Melompati teman yang merangkak
  • Melompati teman yang membungkuk (guru harus cermat karena ada kelas yang muridnya belum semuanya mampu melakukan )
  • Menerobos diantara dua kaki

 

 

 

3. Contoh Gerakan Lari dan Jalan Dalam Permainan

* Menggunakan berbagai variasi lari dengan permainan sederhana, hanya dengan garis-garis di tanah atau lantai dapat disusun permainan dalam lapangan bujur sangkar. Setiap kelompok secara bergantian pindah kesisi bujur sangkar di depannya dengan lari yang di perintahkan oleh guru.

 

 

 

* Jika muridnya banyak keempat sisi bujur sangkar dapat diisi masing-masing dengan satu kelompok, kelompok yang berhadapan bertukar tempat dngan lari atas perintah guru.

 

 

 

* Suasana gembira lebih terjamin bila permainan dibuat dalam bentuk lomba beregu, memindahkan simpai ke garis seberang.

 

 

 

 

B. Dasar-dasar Gerak Lompat

1. Pembahasan Singkat

Dikaitkan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak kelas III-IV dasar-dasar gerakan lompat sangat penting untuk diajarkan, gerakannya sesuai dengan anak yang energik walaupun postur tubuh belum bagus, namun otot mulai tumbuh dengan cepat. Sehingga berbagai gerakan lompat yang disiapkan dengan baik sangat membantu merangsang pertumbuhan otot, khususnya pertumbuhan otot tungkai.

Untuk menarik agar anak senang melompat-lompat maka rangsangan perlu ditingkatkan, misalnya dengan mempertinggi rintangan yang harus dilompati. Berdasarkan pengalaman melompa-lompat diatas kardus-kardus yang ditata dengan baik merupakan permainan yang mengasikkan bagi anak, jika sulit mencari kardus bisa dimanfaatkan alat-alat yang lainnya.

2. Contoh Berbagai Variasi Gerakan Melompat Untuk Kelas III-IV SD

  • Lompat kangkang ke depan
  • Lompat kangkang ke belakang
  • Lompat ke depan dengan sikap berdiri dari sikap bediri dan kaki menyilang secara bergantian
  • Lompat ke depan kaki menyilang bergantian kanan / kiri ke depan
  • Melompat split jatuh dua kaki bersamaan kaki kiri dan kanan bergantian ke depan
  • Lopat ke samping sambil berputar ¼ lingkaran

 

* Melompati tali atau dengan tongkat yang dipegang temannya dengan berbagai macam gerakan lompat.

* Melompati teman dalam posisi tiarap, merangkak, merangkak tumpu (press up), kayang.

 

* Melompati kardus yang diatur sebagai rintangan dengan berbagai macam variasi gerak lompatan, melompat kesamping, kanan, samping kiri yang diletakkan berderet. Berderet variasi gerakan dengan bertumpu dua kaki, bertumpu satu kaki, melompati dengan membuat putaran.

 

* Kardus-kardus dan alat yang lain, kadang-kadang hanya berfungsi sebagai batas, seperti contoh berikut : gerak sepanjang lintasan secara berpasangan maupun kelompok.

 

 

3. Contoh Gerakan Lompat Dalam Bentuk Permainan

* melompati teman dalam posisi merangkak, secara sederhana.

 

* Melompat dengan alat kardus secara sederhana.

 

C. Dasar Gerak Lempar

1. Pembahasan Singkat

Dalam modul ini akan diperkenalkan beberapa variasi gerak yang lain. Juga beberapa contoh permainan dengan gerakan melempar. Berbagai cara untuk mendorong dan mengajak anak melempar dengan mempergunakan alat-alat yang dilempar dibuat menarik supaya ada rangsangan tersendiri. Sasaran yang beraneka ragam akan memberikan motivasi untuk melempar. Semakin sulit tugas gerak yang diberikan, semakin menantang dan merangsang keinginan anak untuk melempar. Merek terdorong menampilkan kemampuannya dalam suasana bermain yang penuh semangat.

2. Contoh Gerakan Melempar Untuk Kelas III dan IV SD

  • Melempar tegak lurus keatas dengan satu tangan
  • Memantulkan bola ke tanah
  • Menolak dengan dua lengan dari dada sikap berdiri
  • Menolak dengan dua lengan dari dada sikap berlutut
  • Menolak dengan dua lengan dari dada sikap duduk
  • Melempar kedepan diatas kepala dengan dua lengan sikap duduk

 

* Bermain lempar tangkap dengan berpasangan.

 

* Melempar bola kesasaran tertentu.

 

* Lempar tangkap bola yang dipantulkan kelantai dengan tempat perkenaan bola diberi batas garis.

 

3. Contoh Gerak Lempar Dalam Permainan

* Estafet lempar yaitu pelempar dari satu tim dibagi dua menempati lingkaran di tiap sudut lapangan. Lemparan pertama dari masing-masing tim dimulai dari sudut diagonal yang berbeda. Tugas anggota tim adalah berebut pindah kelingkaran seberang dengan mengejar bola yang dilemparkan sendiri. Melempar harus dari dalam lingkaran untuk menangkap atau mengambil bola yang keluar, boleh keluar lingkaran tetapi harus kebali ke lingkaran, sebelum melanjutkan lemparan ke anggota tim berikutnya.

 

 

Gabungan antara lari dan lompat keliling, alat yang digunakan adalah kardus dan pancang yang mudah dipindahkan sehingga dapat diatur arena yang sifatnya lapang dan lebih jelas. Bagi anak ini lebih menyenangkan dan memberi dorongan untuk melakukan tugasnya lebih bersungguh-sungguh. Sementara setengah kelas berlomba yang lain istirahat tetapi tidak pasif. Mereka menjadi penggembira dan memberi dorongan yang berlomba dengan tepukan atau teriakan-teriakan.

 

TUGAS DAN LATIHAN

Setelah anda mempelajari modul atletik 1 sedikit banyak Anda pasti sudah memahami dan dapat mengembangkan pembelajaran di sekolah anda.

1. Seperti pada modul 1 anda diminta untuk menguji cobakan contoh-contoh pembelajaran dalam modul atletik 2 dan laporkan tentang

a. Apakah anda kesulitan untuk memahaminya ?

b. Kendala dan kesulitan dalam mempraktikkan ?

2. Setelah anak-anak memiliki perbendaharaan gerak lebih banyak, maka lebih banyak lagi model-model permainan dapat dibuat

a. Coba anda buat sendiri model permainan atletik yang sesuai dengan kondisi lapangan dan peralatan yang ada di sekolah anda.

b. Bedakan bobot kesukaran materi antara kelas yang rendah dengan kelas yang lebih tinggi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MODUL 3

 

PEMBELAJARAN ATLETIK KELAS V DAN VI SD

            Dengan keluarnya modul 3 ini maka atletik dalam bentuk pemainan untuk SD kelas I-VI telah lengkap disajikan berikut contoh-contoh pembelajarannya. Selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan sendiri melalui praktek pembelajaran pendidikan jasmani sehari-hari di sekolah masing-masing dengan dasar kaidah-kaidah proses belajar mengajar (PBM) yang telah disampaikan, harapannya dapat mulai mencobanya. Kemudian untuk memantapkan soyogyanya didiskusikan dengan guru-guru disekitar sekolah masing-masing. Yang menjadi fokus perhatian harus apat membedakan antar isi dan tugas ajar yang diberikan untuk kelas yang rendah dengan kelas yang lebih tinggi. Tugas gerak yang diberikan di kelas II seharusnya merupakan kelanjutan atau pengayaan dari kelas I, demikian seterusnya sampai kelas VI. Jadi tugas ajar kelas yang lebih tinggi seharusnya mempunyai bobot kesulitan lebih berat dibanding dengan kelas yang dibawahnya.

Anak kelas V-VI SD waktu bermain boleh diperpanjang (dibanding kelas dibawahnya) bertumbuhan badan yang cepat dan kurang terarur menyebabkan keseimbangan tubuh terganggu karena gerakannya cenderung kaku. Ia ingin diterima sebagai anggota kelompok, oleh karena itu lebih mementingkan keberhasilan kelompok dibanding individu. Lebih menyenangi permainan dan perlombaan yang menggunakan peraturan resmi dan terorganisir. Inti dari uraian singkat ini ialah atletik kelas V-VI walaupun masih dalam bentuk permainan tetapi sudah mirip dengan nomor atletik tertentu dan dibuat aturan sesederhana yang mengarah ke peraturan yang sebernarnya. Tetapi tingkat permainan ini sama sekali masih belum menyangkut teknik dasar standard, seperti pengoperan tongkat estafet harus didalam petak pengoperasian, ayunan lengan harus betul dan dll. Lebih jelasnya ikutilah uraian singkat dan contoh di bawah ini :

A. Dasar-dasar gerak lari

1. Pembahasan singkat

Walaupun di atas disebutkan bahwa materi ajar utnuk kelas V-VI berbentuk permainan yang mirip atletik / lari sebenarnya, tetapi bukan berarti penambahan perbendaharaan gerak lari perlu diberikan. Paling tidak waktu pemanasan dan gerak pendahuluan sebaiknya di berikan permainan yang berisi berbagai variasi gerakan lari.

Permainan yang disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan, memungkinkan anak berkembang dengan resiko cedera sekecil mungkin. Lari dalam bentuk permainan memungkinkan anak lebih cepat mengembangkan berbagai keterampilan dasar yang diperlukan sebagai landasan kokoh bagi nomor lari atau dapat juga sebagai dasar bagi cabang olahraga yang dipilih sebagai spesialisasinya nanti.

Lari sambil bermain sebenarnya akan lebih menyenangkan jika dilakukan di lapangan luas di alam bebas atau di perbukitan. Contoh-contoh kegiatan bermain atletik (lari) yang diberikan hanya dipilih yang tidak memerlukan lapangan luas tetapi dilakukakn di halaman sekolah, di lapangan, atau di dalam aula. Dengan harapan dapat dilaksanakan di semua SD baik yang ada di perkotaan atau di pedesaan.

2. Contoh berbagai variasi lari dan jalan untuk kelas V dan VI SD  

  • Lari di lintasan
  • Lari menginjak peti lompat
  • Lari sikap gawang diatas kardus
  • Lari sambil main tali (skiping)
  • Lari melewati tali yang diputar oleh teman lain
  • Lari menanjak dan menurun

 

 

3. Contoh gerakan lari dan jalan dalam bermain

@ Dua anak jogging satu di depan satu di belakang dengan jarak sepanjang tongkat yang dipegang pada ujungnya. Bila ada aba-aba tertentu, tongkat dilepas dan pelari yang di belakang berusaha menangkap pelari yang di depan. Pada babak beriktunya posisi dibalik

 

 

@ Kelompok bersama-sama sprint ( lari secepatnya ) menuju bola yang diletakkan pada jarak secukupnya. Anak yang paling depan mengambil bola, lari menuju titik yang sudah ditentukan dan siap melempar, kemudian yang lain berderet-deret membuat jembatan dengan ‘sikap kepiting’. Anak paling ujung siap menerima bola lewat terowongan jembatan, si pelempar menyambung jembatan dengan sikap kepiting pula. Penerima membawa bola lari ke tempat melempar seperti anak pertama dan anak yang ada di ujung jembatan menjadi pererima bola. Demikian selanjutnya sampai semua melakukan giliran melempar bola. Kemudian kelompok bersama-sama kembali ke tempat semula.

 

 

 

 

Tugas tambahan ( melempar bola lewat terowongan ) ini dapat diganti dengan tugas yang lain. Misalnya kelompok berlari bersama menuju simpai yang diletakkan di ujung lain. Semua anggota kelompok menerobos simpai, baru lari kembali ke tempat semula.

 

 

 

Permainan lari sambung (estafet)

Berbagai variasi permainan estafet dapat ditampilkan dengan menggunakan alat bantu bola, kardus atau simpai.

* Bola sebagai pengganti tongkat dalam permainan estafet bolak-balik ( shuttle )

 

 

 

* Memindahkan kardus atau benda lain ke sisi berlawanan satu persatu

 

 

* Estafet bolak-balik dengan memindahkan kardus atau simpai.

 

 

Permainan lari gawang dengan menggunakan kardus.

* Kardus ditata sebagai rintangan dalam lintasan untuk dilompati dengan lari. Lintasan satu ada satu kardus, lintasan ke dua denga dua kardus dst.

 

 

 

 

* Jika keterampilan anak sudah bagus dan berani melompat tanpa ragu-ragu, maka untuk rintangannya bisa dengan menggunakan bangku.

* Agar secara tak sadar anak-anak melakukan gerakan mirip lari gawang, maka rintangan kardus bagian tengah dibuat rendah dan ujung kiri kanan lebih tinggi. Kaki ayun di atas kardus bagian tengah dan kaki tumpu ditekuk di atas kardus yang lebih tinggi.

 

 

 

Selanjutnya anda dapat membuat model permainan yang lain misalnya model lintasannya melingkar atau lurus memamanjang dll.

 

B. Dasar-Dasar Gerak Lompat

1. Pembahasan singkat.

Jika materi atletik dalam pendidikan jasmani di SD dilaksanakan dengan lancar mulai kelas I s/d VI sesuai dengan rencana, maka anak kelas V- VI seharusnya sudah mempunyai perbendaharaan dasar-dasar gerak lompat yang cukup lengkap. Dengan demikian materi ajar atletik nomor lompat juga mematangkan dan mengembangkan gerak dasar dominan dalam nomor lompat. Maksudnya perbendaharaan gerak yang sudah dibina dari kelas I s/d VI harus dijaga agar tetap melekat pada anak, bahkan sampai dewasa nanti. Permainan yang dinamis bergembira dengan berbagai variasi gerakan lompat masih digunakan sebagai pendekatan dalam pendidikan jasmani.

Dari segi perkembangan, pertumbuhan dan pembinaan anak kelas V – VI memasuki masa peralihan. Peralihan yang dimaksud adalah pergantian dari masa kanak-kanak memasuki masa puber, ini tentu mempengaruhi aktivitas geraknya. Tapi karena masa puber ini banyak disoroti dari segi kejiwaan, maka tidak diulas secara khusus dalam modul ini. Dari segi pertumbuhan terlihat bahwa pada anak usia 11 – 13 tahun ( kelas V – VI ) otot tumbuh cepat tetapi tidak teratur. Agar tumbuhnya menjadi optimal perlu dirangsang melalui gerak dalam pendidikan jasmani.

Guna memberi kesempatan kepada anak berbakat mengembangkan kemampuannya, guru harus memilih permainan yang dapat mengembangkan gerak dasar, yaitu gerakan yang mengandung ciri-ciri nomor lompat tertentu, tetapi belum masuk dengan teknik dasar yang standar. Anak masih bebas melakukan gerakan dalam permainan yang disiapkan oleh guru. Disini kreativitas guru sangat berperan untuk membuat permainan dengan variasi gerakan yang dapat menunjang perkembangan gerak dasar dominan pada nomor lompat.

2. Contoh berbagai variasi lompat untuk kelas V dan VI SD

  • Lompat ke depan tinggi bertumpu satu kaki.
  • Lompat berjingkat bertumpu satu kaki bergantian.
  • Melompati kardus dengan melangkah, bertumu satu kaki
  • Melompati kardus dengan kedua lutut ditekuk
  • Melompati kardus dengan membuat ½ atau satu putaran
  • Melompati mistar dengan kedua lutut ditekuk

 

 

3. Contoh gerakan lompat dalam permainan

Berbagai model permainan lompat mulai menggunakan alat seperti kardus, matras, bangku sampai dengan menggunakan fasilitas alat yang lengkap, dengan mudah dapat disusun. Jika hanya ada matras saja secara sederhana dibuat sebagai berikut :

 

 

Apabila ditambah kardus dapat juga dibuat seperti berikut :

 

 

 

Permainan seperti diatas akan semakin menarik jika rintangan diletakan pada lintasan yang berbentuk segitiga atau lingkaran.

 

 

 

Permainan mengarah ke nomor sebenarnya, yaitu lompat jauh yang merupakan kombinasi antara sprint dengan kekuatan menolak/menumpu.

 

Untuk lebih mengarah ke nomor sebenarnya dapat dikembangkan sebagai berikut :

 

Pada permainan diatas jarak rintangan harus diatur dengan satu langkah maju (lebih pendek), semua anak dengan mudah dapat melompati rintangan berikutnya. Sebaiknya dilaksanakan dengan irama. Dapat pula setiap kelompok melakukan lompatan sambil bergandengan tangan, hanya pada lompatan terakhir  melompat sendiri-sendiri. Kegiatan berikutnya, agar anak dapat merasakan melayang maka lompatan terakhir melompat secara sendiri-sendiri.

Kegiatan berikutnya agar anak dapat merasakan melayang maka pada lompatan terakhir diberi rintangan yang sedikit lebih tinggi dibanding rintangan sebelumnya. Atau jika punya peti lompat yang cukup kuat disusun seperti gambar berikut.

 

 

C. Dasar-dasar gerak lempar

1. Pembahasan singkat

Setelah mempelajari modul satu dan dua diharapkan tidak lagi kesulitan untuk mengembangkan dan menciptakan lebih banyak model-model permainan dalam gerakan lempar. Model tersebut dapat digunakan sampai dengan kelas VI. Hanya untuk kelas V-VI materinya ditekankan pada pengembangan gerak dasar dominan untuk nomor lempar. Ini dimaksudkan untuk membantu anak mempersiapkan diri sebelum menetapkan nomor spesialisasinya.

Karakteristik gerakan lempar sangat mudah dibedakan antara nomor lempar yang lain. Jika melempar bola dengan ayunan tangan diatas kepala dan dengan awalan lari adalah ciri dasar gerakan lempar lembing. Melempar dengan ayunan samping dan awalan berputar adalah ciri dasar gerakan lempar cakram. Gerakan mendorong / menolak dengan awalan menggeser adalah ciri dasar gerakan tolak peluru.

Dari segi peralatan yang digunakan karakteristik nomor lempar mudah pula dibedakan. Nomor lempar lembing menggunakan peralatan berbentuk tombak. Nomor lempar cakram mengunakan peralatan yang berbentuk piring / lempengan bulat, dan tolak peluru menggunakan peralatan berbentuk bola / bulat. Dalam pembelajaran peralatannya dimodifikasi, lembing diganti dengan bola berekor atau tongkat kayu / bambu seadanya yang tidak terlalu berat untuk dilempar. Cakaram diganti dengan simpai, ban sepeda bekas, atau kantong pasir. Peluru diganti dengan bola, kantong pasir, atau batu jika peralatan yang lain tidak tersedia.

2. Contoh berbagai variasi gerakan melempar untuk kelas V dan VI SD

  • Lemparan atas (over arm throw)
  • Lempar ayunan berputar (rotasional throw)
  • Lemparan tolakan (puttingthe shot)

 

Lemparan atas                      Lemparan samping                 Tolakan

@ Berbagai variasi gerakan lempar ayunan diatas lengan dapat dikembangkan menjadi beberapa model kegiatan.

 

@ Demikian pula beberapa model ayunan berputar ini juga dapat menjadi dasar untuk mengembangkan permainan anak.

 

 

@ Gerakan mendorong menolak yang dilakukan dalam berbagai posisi (berdiri, berlutut, duduk) dan diarahkan kesasaran tertentu seperti pada gambar berikut.

 

 

3. Contoh gerakan lempar dalam permainan

@ Permainan yang menggunakan dasar lempar diatas bahu misalnya menggusur bola, yaitu regu A dan regu B berusaha mengeluarkan bola dalam lingkaran kearah daerah lawan.

 

@ Permainan mengguanakan dasar gerakan lempar ayunan berputar yaitu masing-masing regu berusaha mengumpulkan skor sebanyak mungkin dengan cara menghitung jumlah lemparan yang masuk ketonggak dalam waktu yang ditentukan. Untuk memudahkan pelaksanaan simpai yang digunakan kedua regu dicat berbeda.

 

@ Permainan dengan dasar gerakan mendorong dengan siswa berpasangan berhadapan, walaupun sederhana tetapi sangat merangsang dan menarik bagi anak-anak utnuk mencoba, lebih-lebih jika dapat memotivasinya.

 

 

 

Selanjutnya agar bentuk pembelajaran lebih menarik dapat diberikan pula dengan menggabungkan antara sprint, estafet dan gerakan lompat.

 

Berlari menyusuri lintasan lurus dengan melompati beberapa rintangan kardus, kemudian yang terakhir melompat dengan mendarat dengan dua kaki.

 

 

TUGAS DAN LATIHAN

1. Uji cobakan contoh pembelajaran atletik untuk kelas V-VI dalam modul atletik 3 ini dan sampaikan kelompok kerja guru tentang:

a. Kekurangan,kelemahan,dan kendala

b. Kesesuaian dengan kemampuan anak.

c. Kemukakan komentar dan saran saudara

2. Model-model permainan atletik untuk kelas V-VI sudah boleh mengarah ke teknik dasar untuk nomor tertentu, tetapi belum boleh mengajarkan langsung teknik tersebut. Agar anda dapat membuat permainan yang mempunyai ciri gerakan nomor atletik tertentu, maka perlu juga memahami tentang nomor atletik sebenarnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Drs. Soepartono. ( 2005 ). Pembelajaran Atletik. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu Guru Penjas

Han s Katzenbogner/Michael Midles. (1996). Pedoman Atletik Untuk Anak.Nomor Lari dan Gawang seri I (alih bahasa oleh PASI ). Jakarta: PASI

………….   (1996) Pedoman Atletik Untuk Anak.Nomor Lompat seri II. (alih bahasa oleh PASI ). Jakarta: PASI

…………..  (1996). Pedoman Atletik Untuk Anak.Nomor Lempar seri III. (alih bahasa oleh PASI ). Jakarta: PASI

Mochamad Djumidar A. Widya. (2004). Gerak- Gerak Dasar Atletik Dalam Bermain. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bagaimana jika anak berpikir kritis

Mengajar Anak Berpikir Kritis

Oleh: Bagus Takwin

 

Mungkinkah Mengajar Anak Bepikir Kritis?

Sejak kapan manusia mulai belajar?

Jawabannya: Sejak lahir. Begitu Lipsitt (1969) dalam tulisannya “Learning capacities in the human infant” menegaskan. Ternyata manusia yang baru lahir merupakan organisme dengan kemampuan belajar efisien. Tahun-tahun awal dalam kehidupan manusia adalah masa belajar intensif yang amat banyak membuahkan hasil. Perolehan bahasa, pengetahuan tentang berbagai benda dan pengenalan kehidupan sosial terjadi pesat dalam masa lima tahun pertama.

Lalu, sejak kapan manusia mulai berpikir? Bower (1989) menjelaskan dalam bukunya, Rational Infant, bahwa bayi dalam tahap infansi sudah dapat berpikir logis. Diperkuat oleh data dari Monnier (1981) yang menunjukkan bahwa bayi berusia sekitar satu tahun dapat menggunakan kalkulus logis secara formal seperti anak usia remaja akhir. Artinya kemampuan berpikir sudah ada pada manusia sejak tahun pertama kehidupan.

Pendapat-pendapat di atas berimplikasi kepada proses pengajaran berpikir pada anak, bahwa mengajar anak berpikir bukanlah hal yang aneh, begitu pula dengan mengajar berpikir kritis. Jika bayi sudah dapat melakukan kegiatan berpikir logis, maka wajar jika anak-anak di usia sekolah dasar diajar berpikir kritis. Persoalannya adalah: bagaimana mengajarnya dan sejauh mana?

Pada dasarnya sejak kanak-kanak manusia sudah memiliki kecenderungan dan kemampuan berpikir kritis. Sebagai makhluk rasional, manusia selalu terdorong untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekelilingnya. Kecenderungan manusia memberi arti pada berbagai hal dan kejadian di sekitarnya merupakan indikasi dari kemampuan berpikirnya (Paul, 1994). Kecenderungan ini dapat kita temukan pada seorang anak kecil yang memandang berbagai benda di sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu. Perhatikan ia maka kita dapat memperoleh pemahaman tentang bagaimana anak berpikir dan memberi makna pada lingkungannya. Lihat bagaimana mereka menguji-coba segala sesuatu yang memancing rasa ingin tahunya lalu menarik kesimpulan dari hal-hal yang ditemuinya.

Dengan pemahaman terhadap kondisi kognitif anak dan kemampuan belajar mereka yang tinggi, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan untuk berpikir kritis hendaknya sudah diberikan pada anak sejak masih sangat muda, selain untuk mempersiapkan mereka di masa dewasa kelak, juga untuk membiasakan keterbukaan pada berbagai informasi sejak dini. Kurangnya pendidikan berpikir kritis dapat mengarahkan anak-anak kepada kebiasaan melakukan berbagai kegiatan tanpa mengetahui tujuan dan mengapa mereka melakukannya. Kebiasaannya ini sudah sering terlihat pada anak-anak yang kurang bahkan tidak mendapatkan pendidikan berpikir kritis.

Schoenfeld (dalam Paul dkk., 1989) melaporkan suatu eksperimen pada siswa-siswa sekolah dasar. Kepada siswa-siswa ini diberikan soal “Kalau dalam sebuah kapal ada 26 ekor biri-biri dan 10 ekor kambing, berapakah usia kapten kapalnya?” Hasilnya ‘menakjubkan’, 76 dari 97 siswa ‘memecahkan’ masalah ini dengan menambah, mengurangi, mengalikan atau membagi angka-angka tersebut. Mereka merasa dituntut untuk memecahkan masalah itu sesegera mungkin sampai-sampai tidak berusaha untuk memahami persoalan yang dihadapinya. Dalam dunia pendidikan yang masih banyak menganut cara ortodoks yang menuntut pelajar hanya menelan apa yang disampaikan guru atau orangtua padanya memang sulit mengharapkan individu mampu mengajukan pikirannya sendiri, apalagi yang unik. Mereka cenderung tampil sebagai individu yang otomatis, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan. Itu juga berlaku di Indonesia.

Cara belajar dan berpikir seperti itu sama sekali tidak cocok untuk keadaan sekarang terutama bila bangsa kita tidak ingin hanya menjadi follower (pengikut) saja. Menyedihkan bila dalam dunia yang sudah makin menipis batas-batasnya ini Bangsa Indonesia hanya menjadi pelaksana dari perintah-perintah orang-orang bangsa lain, juga di negaranya sendiri, sedangkan pengambilan keputusan dipegang oleh orang dari bangsa-bangsa lain yang sudah lebih dipersiapkan sebelumnya. Untuk menghindari kondisi seperti itu, perlu dilakukan usaha untuk mengembangkan kemampuan inisiatif dan berpikir anak yang nantinya mengarahkan mereka menjadi orang-orang yang mampu mengambil keputusan, berpikir dan menghasilkan produk-produk baru. Usaha yang sesuai dengan masalah dan kondisi saat ini adalah mengajarkan mereka berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat membantu manusia membuat keputusan yang tepat berdasarkan usaha yang cermat, sistematis, logis dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Bukan hanya mengajar kemampuan yang perlu dilakukan tetapi juga mengajar sifat, sikap, nilai dan karakter yang menunjang berpikir kritis. Artinya anak-anak perlu dididik untuk berpikir kritis.

Banyak orang tua belakangan ini memiliki ketakutan anaknya akan terpengaruh oleh banyak hal negatif. Teknologi informasi yang berkembang pesat melahirkan jutaan informasi setiap hari yang sebagian besarnya mengandung informasi yang mungkin berpengaruh buruk terhadap diri anak. Ketakutan ini beralasan. Namun tidak mungkin dan tidak bijak mengisolasi anak-anak dari berbagai informasi. Hal yang perlu dilakukan untuk melindungi anak dari berbagai pengaruh buruk adalah dengan membangun kemampuan pengolahan informasi yang memadai serta menjadikan mereka sebagai orang yang mampu mencermati dan memilih informasi yang baik bagi dirinya. Mendidik mereka berpikir kritis dapat membantu orang tua untuk menghindarkan anak dari kemungkinan menggunakan informasi yang tidak tepat. Mendidik anak berpikir kritis akan membantu anak untuk secara aktif membangun pertahanan diri terhadap serangan informasi di sekelilingnya.

Melatih anak berpikir kritis sejak muda memang dimungkinkan, tentu saja dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya. Hal itu dapat dilakukan dengan mempersiapkan kurikulum pendidikan yang berdasarkan berpikir kritis. Paul (1994) mengusulkan strategi pengajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir dialogik dan dialektikal. Melalui cara ini anak akan terbiasa untuk menggunakan pemikiran kritisnya pada segala sesuatu, termasuk juga pada dirinya sendiri. Selain itu, untuk dapat melatihkan keterampilan berpikir kritis pada anak-anak tentu saja mensyaratkan orangtua dan guru yang juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. Dengan demikian maka seyogyanya para orang dewasa, yang diharap membantu anak untuk memanfaatkan keterampilan berpikirnya, dengan rendah hati belajar, melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya pula.

Perlu dipahami bahwa mengajar anak berpikir kritis tentu berbeda dengan mengajar orang dewasa. Meski kemampuan belajar dan berpikir sudah ada sejak awal kehidupan tetapi perbedaan-perbedaan isi dan kompleksitas struktur pengetahuan mereka berbeda dengan yang dimiliki orang dewasa. Perbedaan itulah yang perlu dijadikan dasar bagi pengajaran berpikir kritis pada anak.

Bagaimana kita mengajarkan berpikir kritis kepada anak. Di sini akan dipaparkan sebagian metode dan fasilitasi yang diharapkan dapat merangsang anak belajar berpikir kritis. Lalu akan dikemukakan pula indikasi-indikasi dari perilaku berpikir kritis pada anak-anak sekolah dasar. (Untuk penjelasan tentang apa itu berpikir kritis dan seluk-beluknya, baca bab “Berpikir Kritis dalam Pendidikan).

Menyediakan Fasilitas untuk Pembelajaran Berpikir Kritis

Belajar dari Observasi

Anak usia 4-6 tahun dapat diajar berpikir kritis dalam berbagai area: seni bahasa, matematika, ilmu pengetahuan dan ilmu sosial. Anak dapat mulai diajarkan keterampilan observasi dasar seperti mengamati kelompok untuk mencari tahu apa yang membuat kelompok terbentuk. Lewat pengamatan anak juga dapat diajak untuk memahami apa itu bunyi, udara, air, cahaya, suhu, tanah, serta berbagai kayu dan logam. Dalam melakukan observasi anak dapat diperlengkapi dengan alat bantu seperti kaca pembesar, alat pengukur suhu dan sebagainya. Mereka dapat diberi tugas yang derajat kesulitannya bervariasi dari mulai mencocokkan nama yang terdapat dalam daftar dengan stimulus tertentu (teman, bunyi, cahaya dan lain-lain) yang ditampilkan oleh fasilitator sampai ke menjelaskan karakteristik dari hal yang diamatinya bahkan menjelaskan hubungan hal-hal itu dengan manusia.

Pertanyaan-pertanyaan berikut merupakan contoh pertanyaan untuk menggali berpikir kritis dalam kegiatan mengobservasi kelompok.

1. Apa yang kamu dapat dari mengamati teman-teman kamu?

2. Mengapa kamu berteman dengan mereka?

3. Apa persamaan kamu dengan mereka? Apa perbedaannya?

4. Apa yang kamu dapat dari teman?

5. Mengapa kamu berteman?

6. Mengapa orang perlu teman?

Berikut ini contoh pertanyaan yang dapat diajukan dalam kegiatan mengobservasi benda-benda di sekeliling anak.

1. Mengapa air bisa tumpah dari wadahnya?

2. Kapan air tumpah dari wadahnya?

3. Mengapa air mengikuti bentuk wadahnya?

4. Apa perbedaan dan persamaan antara air putih dan sirup? Atau: apa perbedaan air dengan cairan lainnya (minyak, obat batuk, dan sebagainya)?

5. Kapan kita membutuhkan cahaya?

6. Dari mana asal cahaya?

7. Apa guna cahaya?

Belajar  dari Pengandaian

Anak juga dapat belajar berpikir kritis dari pengandaian-pengandaian. Anak diminta mengandaikan kejadian yang mungkin terjadi meskipun belum pernah terjadi dalam keseharian mereka. Misalnya mereka diminta untuk membayangkan apa yang terjadi jika tidak ada air, atau bayangkan jika tak ada cahaya.

Belajar tentang Kemungkinan-kemungkinan Baru

Anak juga dapat diajak untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Contohnya, minta anak untuk mencari cara lain untuk menulis selain menggunakan ballpoint atau pinsil. Atau anak diminta mencari kegunaan lain dari suatu benda.
Belajar Menemukan Kesalahan

Anak dapat diajarkan untuk menemukan kesalahan-kesalahan dari keseharian dengan menggunakan gambar. Contoh: kepada anak ditunjukkan benda tertentu yang kurang lengkap, lalu minta mereka menemukan lima kesalahan dari gambar itu. Atau kepada anak ditunjukkan gambar orang buang sampah dan ditanya apa yang salah dengan orang dalam gambar itu, mengapa salah dan bagaimana seharusnya. Untuk stimulus yang lebih kompleks dapat digunakan rangkaian gambar yang memuat beberapa kesalahan, lalu anak diminta menemukan kesalahan dalam rangkaian gambar itu. Contoh: tunjukkan serangkaian gambar yang memuat dua atau lebih anak yang berselisih dan menyelesaikan perselisihan dengan berkelahi, lalu tanya kepada mereka apa yang salah dari perilaku anak-anak dalam rangkaian gambar itu. Di sini dapat juga digunakan rangkaian gambar kecelakaan. Misalnya gambaran orang kecelakaan tabrakan sepeda atau orang terkena strum. Jawaban-jawaban anak dapat menjadi bahan diskusi yang merangsang anak untuk berpikir kritis.
Melengkapi Cerita

Anak juga dapat diajak untuk melengkapi cerita. Rangkaian cerita dipaparkan kepada mereka dengan beberapa ketidaklengkapan. Anak diminta untuk menemukan bagian cerita yang hilang atau tidak lengkap, kemudian diminta melengkapinya. Cerita dapat disajikan dengan dibacakan atau dilengkapi dengan gambar-gambar.

Indikan-indikan Berpikir Kritis

Pada prinsipnya orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menentukan apakah mereka menerima atau menolak informasi. Jika belum memiliki cukup pemahaman, maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan mereka tentang informasi itu.

Pada anak-anak sekolah dasar, prinsip ini pun berlaku. Kita dapat menilai apakah mereka sudah melakukan berpikir kritis atau belum dari perilaku mereka menanggapi informasi. Berikut ini beberapa contoh dari indikan berpikir kritis berdasarkan media yang digunakan untuk memfasilitasi pada anak-anak di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

1.   Dengan media observasi, anak yang berpikir kritis dapat menemukan dan mempertanyakan objek-objek yang tidak dipahaminya. Ia juga dapat menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimilikinya. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini bisa jadi indikan dari perilaku berpikir kritis anak-anak: “Mengapa kumbang menyukai bunga?” Mengapa gula warnanya tidak selalu putih bersih?” “Mengapa orang suka minum kopi?” “Mengapa bunga mawar berduri?” dan “Mengapa orang dewasa boleh tidur larut sedang anak kecil harus tidur cepat?”

2. Dari media pengandaian, anak dapat mengandaikan dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru atau lain berdasarkan pengandaiannya. Contoh: “Jika air tanah habis, kita membutuhkan air lain untuk dapat diminum. Kita bisa menggunakan air laut tetapi air laut harus diubah dulu supaya tidak asin dan menjadi air putih yang bisa kita minum.”

3.   Dari kegiatan menemukan kemungkinan-kemungkinan kegunaan lain dari benda-benda anak dapat mengemukan berbagai kemungkinan kegunaan dari sebuah benda. Contoh: “Sendal dapat dipakai untuk melempar tikus.” “Kertas dapat dibuat kalung.” “Sedotan minum bisa menjadi tali.” Anak yang lebih kritis dapat menjelaskan proses bagaimana benda-benda itu dapat berfungsi seperti yang mereka katakan. Contoh: “Kertas jadi kalung kalau kita merobeknya secara melingkar tanpa putus hingga bentuknya jadi memanjang.”

4.   Anak dapat menemukan kekurangan dari gambar. Contoh, gambar cangkir tidak ada tangkainya; rumah tidak ada jendelanya; orang jarinya kurang satu; dan sebagainya. Semakin kritis seorang anak semakin tinggi kemampuannya untuk menemukan kesalahan atau kekurangan dari gambar, kejadian atau cerita yang kompleks. Contoh: “Anak ini perlu diingatkan karena telah mencontek. Mencontek akan membuat dia jadi bodoh. Kalau kita membiarkan anak ini mencontek terus maka dia tidak akan belajar dengan baik dan nantinya menjadi orang yang bodoh.”

5.   Anak yang berpikir kritis secara konstruktif dapat memberikan komentar-komentar yang melengkapi sesuatu. Contoh: “Rumah ini akan lebih terasa teduh jika diberi warna biru muda.” atau “Jika anak dalam cerita itu menabung, tentu keinginnanya mendapatkan sepeda lebih cepat tercapai.”

Demikian sekilas contoh-contoh tentang bagaimana mengajar anak berpikir kritis. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah jangan memaksa anak untuk berpikir keras di luar kemampuan dan minatnya. Anak yang merasa dipaksa akan cenderung pasif dan menghindar dari kegiatan berpikir. Akibatnya anak cenderung negativistik. Hal lain yang penting juga adalah membiasakan anak untuk mencari tahu sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jika anak terlalu cepat diberi tahu, ia cenderung pasif dan menerima begitu saja segala sesuatu. Anak yang sering dilarang akan berkembang menjadi anak yang takut membuat keputusan sehingga cenderung pasif dan dependen. Semoga beberapa contoh dalam tulisan ini bermanfaat.***

kenalan dengan PAUD

Pengantar

Ditinjau dari sejarahnya, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di
Indonesia mulai diperhatikan oleh pemerintah secara sungguh-sungguh dan
mencakup rentang usia 0-6 tahun sejak tahun 2002. Dengan demikian
pengembangan PAUD yang mencakup rentang usia 0-6 tahun secara nasional
baru berjalan selama 7 tahun. Namun karena pemahaman dan kemauan
masyarakat selama ini sudah sangat bagus, sehingga hanya dalam kurun
waktu 7 tahun Angka Partisipasi Kasar APK-PAUD sudah mencapai 15,3 juta
(53,6%). Saat ini PAUD sudah menjadi “Gerakan Masyarakat Secara Nasional
(National Public Movement) masyarakat sehari-hari sudah terbiasa
membicarakan pentingnya PAUD bagi masa depan putra-putrinya.

Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Sampai saat ini masi ada beberapa masalah yang dapat menghambat
perluasan kesempatan dan pemerataan akses mengikuti PAUD serta
peningkatan mutu PAUD di Indonesia, namun semua itu kita anggap sebagai
tantangan yang menarik sehingga untuk mengatasinya diperlukan
kreatifivitas dan inovasi yang berkelanjutan.

Tantangan yang prioritas untuk diatasi antara lain :

  1. Jumlah anak yang belum mengikuti PAUD masih cukup besar.
  2. Sarana dan prasarana belajar secara kuantitatif maupun kualitatif
    masih terbatas, hal ini disebabkan oleh terbatasnya kreativitas guru
    PAUD untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran dan sumber
    belajar dengan memanfaatkan potensi budaya dan alam sekitar.
  3. Kompetensi sebagian besar guru PAUD masih belum memadai karena
    sebagian besar dari mereka tidak berasal dari latar belakang pendidikan
    PAUD dan mereka belum memperoleh pelatihan yang berkaitan dengan komsep
    dan ilmu praktis tentang PAUD.
  4. Perbedaan Angka Partisipasi Kasar (APK) peserta PAUD di daerah
    perkotaan dan perdesaan masih sangat besar.

Jenis PAUD di Indonesia

Dibanding dengang perkembangan model dan jenis PAUD di berbagai
negara maju dan berkembang lainnya, PAUD di Indonesia memiliki keunikan
khusus yang agak berbeda dengan di luar negeri. Karena di luar neger
PAUD pada umumnya hanya dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu
Kindergarden atau Play Group dan Day Care, sedang di Indonesia menjadi 4
(empat) macam yaitu :

  1. Taman Kanak-Kanak (Kindergarten)
  2. Kelompok Bermain (Play Group)
  3. Taman Penitipan Anak (Day Care)
  4. PAUD sejenis (Similar with Play Group)

Sistem Penyelenggaraan PAUD

Penyelenggaraan PAUD di negara lain semata-mata hanya menstimulasi
kecerdasan anak secara komprehensif dan pengasuhan terhadap anak, karena
aspek kecerdasan yang dikembangkan hanya meliputi kecerdasan
intelektual, emosional, estetika, dan social serta pengasuhan. Sedang di
Indonesia potensi kecerdasan tersebut diberikan juga pendidikan untuk
mengembangkan potensi kecerdasan spiritual yang dilaksanakan melalui
pendekatan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Di samping itu, juga
diberikan pengetahuan dan pembinaan terhadap kondisi kesehatan dan gizi
peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD di Indone

daftar alamat TK dan PAUD di indonesia

1. KB FLAMBOYAN
alamat: desa kota bangun 3 rt. 10, kec. Kota bangun, kab. Kutai kartanegara
visi; menjaga bening hati anak usia dini
email; rawin.hendrawanto@yahoo.com
blog; kb.flamboyanb.logspot.com

2. TK WIDYA KUSUMA
alamat: Jalan medokan asri tengah 189 kec rungkut surabaya,
Visi, menumbuhkan kembangkan anak usia dini agar menjadi siswa yang CERMAT yaitu Kreatif, beriman, Mandiri dan hemat, siap memasuki pendidikan dasar .

3. Paud darussalam,
Alamat: jalan pandeglang-serang kp baros mesjid,,kelurahan baros,,kec baros,,kab serang, banten,,
visii: mencerdaskn AUD ,,mengembgkan potensi dan kreatifitas anak,,’dan membekali ksiapan msuk pndidkan dasar,,

4. PAUD CEMPAKA VI
Alamat: dusun LENGKASARI desa MULYASEJATI KEC CIAMPEL KAB KARAWANG Info: didaerah trpencil dan lingkungan’a hmpir kbnyakan RTM(RUMAH TNGGA MISKIN) PAUD ini tdk ada iuran perblan tp infak 500/hari

5. PAUD Jami’atul Khair
Alamat: ds sawit rt 13/06 kec Darangdan Purwakarta,
email: nherliana@gmail.com
visi:memfsiltsì dan mengoptmalkn prkembngan psrta didk sjk usia dini agr mmpu bljr aktf & kreatif pd jenjng pend skl dsr.

6. PAUD HARAPAN BUNDA
jln. Basuki rahmat no 288 Kutorejo XII Tuban Jawa Timur Email:
Eviapradana@yahoo.co.id
Visi Dan Misi Menciptakan anak didik yang cerdas dan kreatif serta memiliki akhlak yang mulia. Jumlah peserta didik 30 siswa dengan pendidik 5 orang

7. PAUD IT NURUL HIKMAH
Alamat : Jl.Kaweron Rt.03 / Rw 05 Wonolelo Kec.Muntilan Kab. Magelang
Web/blog :KBITNURULHIKMAH.Blog spot.com
Alamat Email :kbitnurulhikmah@yahoo.co.id
Visi :Aqidah yang lurus,ibadah yg shahih,j…asmani yg kuat,akhlak yg bersih,sertaberwawasan luas untuk membangun generasi yg berkepribadian islam,ilmiah,dan beraklak karimah.MISI : memberikan bekal dasar,meningkatkan dan mengembangkan potensi anak agar tumbuh mjd pribadi muslim yg kokoh,seimbang antara aspek nurani,akal dan jasmani.

8. TK ANNISSA 3,
Jln Kaum No 5 ( Blkg) Tanjungsari Sumedang Jabar 45362,
Email : Lasinov@yahoo.co.id,
Info: Guru 4 Orang (Psikolog, S1 PAUD, D2 PGTK), Jumlah Murid tiap tahun tidak lebih dari 35 org/ dibatasi demi kualitas.
VISI : MATANG, BER-KEPRIBADIAN & BERIMAN, MISI : Meletakkan pondasi awal pada anak didik dlm upaya membentuk potensi secara proporsional, profesional san sesuai tugas perkembangannya dengan sentuhan afeksi dan iman melalui pembinaan berjenjang, Muatan Lokal : Kesehatan Gigi, Konseling Dgn Psikolog Perkembangan, Psikotes Kematangan Khusus Bagi Anak didik yang akan amsuk ke SD, Les Menari, Musik Tradisional, Jarimatika dan Iqra

9. N.IIS SALWIYAH PAUD PELITA HATI
Jl.Kesehatan V/32B Bintataro.Jakarta Selatan

10. TK SAI (saya anak indonesia)
jln tipar cakung no.10 (pb_sai20010@yahoo.co.id)
info: sekolah di lingkungan kumuh yg menjadhkan sebuah pendidikan mempunyai karakter, menciptakan murid2 yg mempunyai nilai2 kemanusiaan karena pada dasarnya pendidikan sejati adalah pendidikan yg berkarakter. pendidikan yg menjadikan murid2nya menjadi baik

11. :KB dan TPA RAUDHATUL HASANAH
Alamat :jln Bangau.Belakang kantor kepala desa SUKADAMAI Kec,Ujungbatu.Kab,ROKAN HULU,Prop,RIAU
E.mail :R.hasanah@ymail.com
Info: izin :Ada (sudah terakreditsi oleh BAN), Gedung : milik sendiri(semi permanen),Jmlh murid : 65 orang(usia 3-5 thn), Jmlh guru :6 orang
Visa&Mii :menjadikan PAUD unggulan kreatif dan inovatif.menghasilkan anak2 beriman,cerdas,disiplin,bertanggung jawap&beraklak mulia.

12. TK PKK KOLOMAYAN, Ds. Kolomayan Kec. Wonodadi Kab. Blitar 13.
KB PAUD AL HIKAM VII
d/a : MAdukaran Gg Kopi 3 Rt 2 Rw 03 Ke.l Kedungwuni Barat Kec. Kedungwuni Kab. Pekalongan Jawa Tengah 51173 (0285)784963/085655566608
Email : PalHikamPitu@yahoo.co.id, Fb : Paud AlHikam Pitu
Visi : Anak Usia Dini yang cerdas, sehat, ceria, memiliki akhlaqul karimah dan memiliki kesiapan baik fisik maupun mental dalam memasuki pendidikan lebih lanjut ”
Misi: Meningkatkan perluasan dan pemerataan akses layanan PAUDMemberikan layanan yang prima ( efektif, efisien, mudah, akuntabel, transparan, dan bermutu ) kepada masyarakat. * Menciptakan kader bangsa yang mempunyai skill,dan kepribadianluhur. * Mangaplikasikan Pendidikan PAUD berbasis Al Qur’an.

13. “Paud Alam Lembah Sroyo —
Alamat :Lembah Sroyo Madureso Temanggung Jawa Tengah
Alamat email : Paudalamlembahsroyo@gmail.com
Visi :Mengoptimalkan tumbuh kembang fisik dan mental pd usia emasnya dg pendidikan dan pengajaran dilandasi nilai nilai keislaman dan didukung dg suasana alam yg alami shg bisa membentuk pribadi berkarakter untuk menunjang kesuksesan mereka di masa datang”

14. PAUD BAHRUL ILMI
Alamat :Jl. Trasn Sulawesi No. 60 Kab. Parigi Moutong Prop. Sulawesi Tengah Alamat Email livia_rishanty@yahoo.com

15. TK Thumb Kids
Alamat: Duta Garden Blok B3 no.15 tangerang

16. KB-TK Islam Almaka,
Alamat : Jl. peta selatan no.1, kalideres-jakbar,
email:tkislamalmaka@gmail.com.

17. Paud & RA. ANINTAN,
Alamat Jalan Kebon Kacang 3 No.113 Tanah Abang Jakarta-Pusat telp. 021-99372042 (bunda lisa), 021-96547475 (bunda rini) dan 021-95492597 (bunda dian) .
email : lisa_eetho@yahoo.com atau properti@ramayana.co.id

18. TK Islam Terpadu (TKIT) Qurrata A’yun.
alamat:Jl.Parindra No.91 Rt.17 LK.VIII, kel kandangan kota, kab hulu sungai selatan, prov.kalimantan selatan alamat email: tk.islamterpadu.qa@gmail.com

19. TK BINA INSANI
Alamat : Ruko Kalideres Permai Blok E1 No 4a Kalideres Jakarta Barat 11840
Alamat Email :tkbinainsani@yahoo.co.id
Visi Misi :Visi .kuat aqidah,luhur perilaku,unggul prestasi, misi : mewujudkan insan yang berakhlaq mulia,berperilaku islami,berprestasi dan mampu bersosialisasi

20. TK Pelita Kudus,
jl.Indraloka raya 33a jakarta Barat.
Sonnilya_j@yahoo.co.id

21. BKB PAUD KEMUNING RW 06
Alamat sekolah : Jln. Wika RT 008/06 Kelurahan Srengseng Sawah Kec. Jagakarsa Jakarta Selatan 12640
Alamat email : www.bkbpaudkemuning @yahoo.com
Visi : Anak-anak dapat menikmati hak-hak dasarnya sebagaim…ana dijamin dalam undang- undang, Misi : menjadikan setiap kegiatan belajar anak bernilai ibadah.

22. ‎”Kelompok Bermain & TK Khadijatul Kubra “
Jl. Keramat basirih No: 98 RT.08 Banjarmasin Barat 70245 .Kalimantan selatan

23. biMBA AIUEO Kebon Kacang
bimbingan MINAT BACA DAN BELAJAR ANAK
Jl. K.H. Mas Mansyur 25 A RSTA Blok 15 Lt. 1 No. 4 Tlp. 021 95567924
Pelajaran di SD berat, biMBA AIUEO membantu mempersiapkan putera/puteri tercinta siap calistung, siap masuk SD.

24. KB – TK – SD IMMANUEL ,
Taman Harapan Baru Blok R – 1 No. 8, Medan Satria – Bekasi. Telp 021 – 71310482,
visi : mjd sekolah yg berakar, bertumbuh dan berbuah dlm iman & ilmu pendidikan.
Misi : menyiapkan generasi yg unggul melalui pendidikan dan pengajaran yg
berkualitas. Motto : berakar, bertumbuh dan berbuah.

25. KB-TK ISlam Taman Firdaus,
Jl. Jatingaleh I 284 Rt 02 RW V Kel. Ngesrep-Banyumanik-Semarang-Jawa Tengah. Motto : Anak Taman Firdaus : Cerdas, Berani Berakhlaq Mulia dan Kreatif

26. PAUD KB NURUL ‘ULUM
Alamat; Jl Raya Kalipelus Kecamatan Purwanegara Km. 14 Banjarnegara 53472 Provinsi Jawa Tengah Motto: Sehat cerdas ceria dan berakhlak mulia

27. PAUD TERATAI/RA AL –
MASJID AL BAROKAH LT 2
…JL KH. MAS MANSYUR 25A JAKARTA PUSAT
TLP. 021 – 3106972

28. PAUD dan TK SANG BINTANG.
Jl. Bakti No. 19 Kisaran – Sumatra Utara

29. PAUD KIRANA “
Alamat : Jl.Jend A.Yani ( By Pass ) Rt.4/4 No.42 Utan Kayu Selatan – Jakarta Timur
Alamat Email : paudkirana@yahoo.co.id

30. PAUD FATIHA (baby and toddler)
Alamat :jl. Golo gg. anyelir UH V no 1011 umbulharjo yogyakarta
Web/blog :www.paudfatiha.blogspot.com
Alamat Email :rezmeliasari@yahoo.com
Visi Misi :silahkan kunjugi web kami tuk info lebih lanjut

31. PAUD ‘ANANDA’ KUBAR Jl.Ahmad Yani Rt.XIV Melak Ullu Kecamatan Melak Kab. Kutai Barat Kalimantan Timur

32. KB & TPA Islam AL FIKRI Alamat : Pondok Sambutan Permai Blok AD-3 Samarinda Visi :Membentuk anak-anak usia dini yang Sehat,Cerdas, Ceria, Berakhlak Mulia & Bercita-cita tinggi
Misi : 1. Menanamkan keimanan dan kepribadian yang utuh, bertangg…ung jawab, mandiri, kreatif serta berakhlak mulia.
2. Mendidik anak-anak agar memiliki ilmu pengetahuan.

Selengkapnya ada di: SINI

Artikel ini bertujuan sebagai media perkenalan antar sekolah Pendidikan Anak Usia Dini dan yang setaraf, supaya bisa saling berkenalan dan bisa saling membantu sesuai dengan kebutuhan masing-masing.. Jadi jangan lewatkan ajang ini… Terima kasih…
Buat Temen-temen yang TK dan PAUDnya belum terdaftar (atau ada kritik dan saran sehubungan dengan info PAUD di atas), silakan mengklik TEMPAT PENDAFTARAN.
Ditulis oleh: Kak Zepe, pencipta lagu anak


Baca juga:
Metode Mengajar Matematika Anak Secara Kreatif
Mengatasi Siswa PAUD yang Masih Suka Ditemeni Ortu
Kasih Sayang Menunjang Kecerdasan Anak
Mencegah Stress Pada Anak

yogyakarta merintis paud inklusi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta berencana membuka rintisan Pendidikan Anak Usia Dini Inklusi di setiap kecamatan sehingga pada akhir tahun diharapkan sudah ada sebanyak 14 pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus itu.

Untuk menangani anak berkebutuhan khusus memang agak sulit, tetapi masih bisa dilakukan dengan semangat tinggi.
— Sugiyanto

“Kami berharap, PAUD juga dapat dikembangkan menjadi pendidikan inklusi karena pada akhir-akhir ini diindikasikan banyak anak berkebutuhan khusus di masyarakat,” kata Kepala Bidang Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Sugiyanto di Yogyakarta, Rabu (29/7/2010).

Menurut dia, meskipun anak-anak tersebut memiliki kebutuhan khusus, tetapi masih tetap harus memperoleh pendidikan untuk membentuk karakter dan bersosialisasi dengan teman sebaya dan juga lingkungan di sekitarnya. Ia menyatakan, masih banyak orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus tersebut yang justru terkesan “menutup-nutupi” bahwa anak-anak mereka memiliki kebutuhan khusus sehingga memilih untuk tidak memasukkannya dalam pendidikan formal atau nonformal.

“Kami sudah melakukan pendataan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus ini, dan setelah pendataan selesai dilakukan, kami akan segera melaksanakan rintisan PAUD inklusi ini, harapannya Juli ini bisa terealisasi,” katanya.

Ia menyatakan, pendataan tersebut juga termasuk jenis kebutuhan khusus dari anak-anak tersebut sehingga pendidik di PAUD dapat menerapkan jenis pendidikan yang tepat untuk anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Salah satu persiapan mendasar untuk menyelenggarakan PAUD inklusi tersebut adalah menyiapkan tenaga pengajar sehingga memiliki kemampuan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Yogyakarta, lanjut dia, akan membantu dalam pelaksanaan persiapan tenaga pengajar tersebut untuk mendidik anak berkebutuhan khusus.

“Untuk menangani anak berkebutuhan khusus memang agak sulit, tetapi masih bisa dilakukan dengan semangat tinggi,” katanya. Namun, lanjut dia, penyadaran kepada orangtua juga harus tetap diberikan dan hal itu menjadi tugas Dinas Pendidikan bersama dengan Tim Penggerak PKK setempat.

paud Inklusi

Dalam rangka sosialisasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pendidikan inklusif, Laboratorium PAUD-Inklusi Fakultas Psikologi UGM menggelar seminar �Tumbuh Kembang Anak dalam Indahnya Keberagaman�. Acara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Mei 2009 ini dihadiri oleh 300 orang, terdiri atas orang tua, pendidik, dan pemerhati anak. Sebelum dibuka oleh Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UGM, Drs. Helly P. Soetjipto, M.A., rangkaian acara diawali dengan pemutaran cuplikan film �Miracle Worker� yang menggambarkan perjuangan mendidik seorang anak berkebutuhan khusus.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut, Prof. Dr. Endang Ekowarni, ahli perkembangan anak dan Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Tri Winarsih, S.Psi., Kepala Sekolah Lab. PAUD-Inklusi Fakultas Psikologi UGM, dan Prita Paramita, pemilik dan pengelola Pusat Terapi Autisme �Permata Ananda�, sedangkan sebagai keynote speaker adalah istri Wakil Walikota Yogyakarta, Anna Haryadi Suyuti, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Forum PAUD Kota Yogyakarta dan Provinsi DIY.

Prof. Endang Ekowarni yang hadir sebagai pembicara pertama memberikan materi seputar perkembangan anak usia dini. Dilanjutkan kemudian oleh pembicara kedua, Tri Winarsih, S.Psi., yang menyampaikan penjelasan seputar PAUD yang dilaksanakan dalam setting inklusi. Penjelasan seputar pengasuhan anak dalam setting inklusi juga disampaikan oleh Prita Paramita berdasar pengalamannya mengasuh beberapa anak berkebutuhan khusus dalam keluarga. Sementara itu, Anna Haryadi Suyuti sebagai pembicara kunci menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 31 UUD 1945, Pasal 41 UU Sisdiknas, dan Perwali yang mengatur teknis pendidikan inklusi di Kota Yogyakarta, seluruh warga berhak untuk mendapatkan pendidikan secara normal, baik bagi anak normal maupun berkebutuhan khusus.

Selain mengikuti seminar, para peserta juga berkesempatan melihat hasil karya anak-anak didik Lab. PAUD-Inklusi Fakultas Psikologi UGM dan Pusat Terapi Autisme �Permata Ananda� serta stand-stand sponsor. Acara hari itu berlangsung meriah karena dibagikan beberapa doorprize dari sponsor bagi peserta yang beruntung.

pengertian SD

Sekolah dasar (disingkat SD;Inggris:Elementary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (atau sederajat).

Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.

Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.